Gagal Ginjal Kronis

Gagal Ginjal Kronis

Gagal Ginjal Kronis (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan oleh menurunnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan volume dan cairan elektrolit di dalam tubuh. Hal ini terjadi selama lebih dari 3 bulan.

Penyakit kronis ini bersifat irreversible atau dengan kata lain fungsi ginjal yang rusak tidak dapat kembali lagi seperti sedia kala. Keadaan ini bersifat menahun. Hal ini dapat diperparah dengan munculnya uremia yaitu suatu kondisi dimana meningkatnya kadar urea dan sampah nitrogen lain dalam darah. Penderita yang mengalami hal ini akan disarankan oleh dokter untuk melakukan cuci darah atau Hemodialisa (HD) atau dapat juga dilakukan transplantasi ginjal.

Gejala

Karena setiap manusia diberkahi dua ginjal yang apabila salah satu dari fungsi ginjal tersebut menurun maka tugas akan diambil alih oleh ginjal yang satunya. Sehingga pada fase awal penyakit ini, penderita tidak merasakan gejala apapun. Gejala muncul saat penderita sudah memasuki tahap lanjut atau stadium lanjut. Penyakit ini dapat terdeteksi dari pemeriksaan urin dan darah secara rutin di laboratorium.

Gejala atau tanda-tanda gagal ginjal yang dapat dirasakan oleh penderita, seperti :

  1. Tubuh terasa lemas yang disebabkan karena anemia
  2. Tes urin yang menunjukkan adanya protein dalam urin
  3. Kram otot
  4. Kulit gatal
  5. Kehilangan nafsu makan, mual dan muntah
  6. Kehilangan berat badan
  7. Kelelahan
  8. Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  9. Nyeri pada dada akibat cairan menumpuk di sekitar jantung
  10. Pembengkakan dipergelangan kaki atau seluruh tubuh dikarenakan penumpukan cairan.
  11. Sesak napas karena terkumpulnya cairan di paru

Penyebab

Penyakit gangguan ginjal terutama terjadi pada kondisi penyakit tertentu yang memberi tekanan pada ginjal, seperti :

  1. Glomerulonefritis atau peradangan pada ginjal. Berdasarkan sumber terjadinya kelainan, glomerulonefritis dibedakan menjadi dua yaitu, primer dan sekunder. glomerulonefritis primer apabila penyakit yang berasal dari ginjal itu sendiri sedangkan glomerulonefritis sekunder apabila terjadi kelainan ginjal akibat dari penyakit sistemik lain.
  2. Diabetes mellitus. Diabetes mellitus sering disebut sebagai the great imitator. Penyakit ini disebut pula menjadi penyebab utama dari GGK. Terjadinya peningkatan glukosa yang terlalu tinggi dalam darah dapat merusak sistem penyaring di ginjal sehingga fungsi ginjal untuk menyaring kotoran sisa-sisa metabolisme tubuh akan terganggu.
  3. Tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi atau hipertensi juga kerap menjadi penyebab dengan penyakit ginjal. Hal ini terjadi apabila tekanan di dalam pembuluh darah meningkat dan menyebabkan penekanan pada ginjal, sehingga mengganggu proses penyaringan.

Beberapa kondisi berikut yang juga dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal kronis :

  1. Adanya batu ginjal yang menyebabkan gangguan penyumbatan pada saluran kemih
  2. Vesicoureteral reflux, kondisi dimana urin kembali lagi ke dalam ginjal
  3. Adanya kista pada ginjal
  4. Pielonefritis atau infeksi pada ginjal
  5. Lupus erimatosus sistemik, kondisi dimana terdapat gangguan pada kekebalan tubuh yang mengenali ginjal sebagai jaringan asing
  6. Penggunaan rutin obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti obat anti-inflamasi non-steroid (non-steroidal anti-inflammatory drugs/NASAIDs).
  7. Penderita kanker yang menjalani kemoterapi juga perlu dipantau kerja fungsi ginjal terutama untuk pemeriksaan ureum dan kreatinin. Karena pemecahan sel akibat kemoterapi dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah, yang pada kasus tertentu dapat menjadi masalah serius.

Faktor resiko gagal ginjal kronik yaitu pada pasien dengan diabetes mellitus atau hipertensi, obesitas atau perokok, berumur lebih dari 50 tahun, dan individu dengan riwayat penyakit diabete mellitus, hipertensi, dan penyakit ginjal dalam keluarga.

Cara Mengobati

Bagi penderita yang masih dalam stadium dini diperlukan perhatian khusus dalam perawatan untuk mencegah memburuknya fungsi ginjal. Perhatikan asupan makanan dengan menerapkan diet rendah protein, mengurangi konsumsi kolesterol. Sedikit mengkonsumsi garam, konsumsi garam berlebih dapat menyebabkan pembentukan kristal. Perbanyak minum air putih dan olah raga teratur. Hindari pula minum alkohol dan mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menghambat serta mengganggu fungsi ginjal.

Penderita dengan stadium akhir akan dilakukan terapi pengganti ginjal. Terapi ini berupa cuci darah atau Hemodialisa atau transplantasi ginjal. Terapi ini dilakukan apabila hasi pemeriksaan menunjukkan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) kurang dari 15 ml/menit serta kadar ureum dan kreatinin dalam darah meningkat. Seorang dokter harus dengan tepat menentukan apakah pasien tersebut harus menjalani cuci darah atau tidak dengan melihat hasil uji laboratorium.

Tindakan cuci darah ini tidak boleh terlambat agar tidak terjadi komplikasi dan mencegah timbulnya gejala azotemia dan malnutrisi. Sebaliknya, jika memang pasien belum memerlukan tindakan cuci darah, maka terapi ini tidak akan dilakukan karena akan memperburuk faal ginjal itu sendiri. Selain cuci darah, transplantasi ginjal juga dapat dilakukan pada penderita dengan stadium akhir. Tetapi, perlu diingat organ ginjal yang akan ditransplantasikan berasal dari donor hidup dan memiliki garis keturunan keluarga dengan pasien.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait