Studi: Efek Makan Malam Langsung Tidur Terkait Hormon Melatonin

Studi: Efek Makan Malam Langsung Tidur Terkait Hormon Melatonin

Bukan makanan apa yang Anda makan, tapi kapan saat Anda mulai makan adalah kunci untuk menurunkan berat badan. Slogan ini didorong oleh sebuah penelitian kecil di AS yang melibatkan 110 mahasiswa.

Periset ingin mengukur pola tidur mereka, dan mengamati berapa banyak makanan yang mereka makan, kapan waktu makan dan efek makan malam langsung tidur.

Konsep dasar penelitian

Tubuh manusia biasanya mengalami siklus 24-jam siang dan malam. Sederhananya, kita terbangun saat mulai siang dan tidur kalau sudah gelap.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makan menjelang tidur dapat memiliki efek buruk pada berat badan dan gangguan kesehatan metabolik termasuk: diabetes tipe 2, serangan jantung, stroke, hipertensi, dll.

Para peneliti sangat tertarik pada apa yang mereka sebut sebagai onset melatonin cahaya redup (DLMO: dim-light melatonin onset ). DLMO adalah saat kondisi tubuh mulai turun dalam persiapan tidur dan mulai memproduksi hormon melatonin.

Tubuh mengalami DLMO biasanya dimulai sekitar jam 8 malam. Tapi waktunya bisa bervariasi jika Anda melakukan shift kerja malam. Para periset menemukan siswa dengan berat badan lebih tinggi cenderung makan lebih banyak kalori di waktu mendekati DLMO mereka.

Asal studi

Penelitian ini dilakukan oleh periset di Brigham and Women’s Hospital dan Harvard Medical School di AS, dan University of Murcia di Spanyol, hasil penelitian diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition.

Ini adalah penelitian cross-sectional yang bertujuan untuk melihat apakah waktu makan (terutama makan di jam tidur di malam hari) dan jumlah kalori yang dikonsumsi terkait dengan DLMO peserta studi, dan efek-efeknya.

Metode penelitian

Studi ini merekrut 110 mahasiswa berusia 18 sampai 22 tahun. mereka diperintahkan untuk memakai monitor aktigrafi pergelangan tangan setiap saat.

Monitor aktigrafi adalah alat yang dapat memberikan perkiraan waktu yang cukup akurat untuk waktu tidur dengan mengukur aktivitas fisik dan paparan cahaya.

Para siswa juga menyimpan catatan dan aktifitas harian. Waktu dan durasi tidur dinilai dari monitor aktigrafi dan berkorelasi dengan catatan harian.

Selama 7 hari berturut-turut, para peserta diminta untuk mencatat semua makanan dan minuman yang mereka konsumsi, dan kapan saat makan.

Apa hasilnya?

Para peneliti mengatakan: “Hasil ini memberikan bukti bahwa konsumsi makanan malam menjelang tidur selama ritme sirkadian memainkan peran penting dalam komposisi tubuh.”

Hal lain juga telah diamati bahwa orang yang mengkonsumsi makanan kalori besar di akhir malam (tubuh mensekresi hormon melatonin) atau saat hendak tidur dapat memiliki berat badan berlebih (obesitas) dan gangguan metabolik.

Kesimpulan

Hasil penelitian ini tampaknya masuk akal, tapi karena ini adalah studi cross-sectional, itu mungkin belum tentu terjadi pada semua orang, artinya tidak secara benar-benar terbukti. Studi cross-sectional hanya bisa menunjukkan asosiasi – tidak dapat membuktikan sebab dan akibat.

Cara terbaik untuk mencapai diet sehat dan mempertahankan berat badan ideal adalah dengan mengonsumsi makanan seimbang, tinggi buah dan sayuran, rendah lemak jenuh dan gula, serta berolahraga secara teratur (NHS Choices)

Beri Vote Jika Bermanfaat

Artikel Terkait

Bagikan Ke Temanmu: