Benarkah Penyakit Asma Adalah Resiko Seumur Hidup?

Benarkah Penyakit Asma Adalah Resiko Seumur Hidup?

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh SKRT atau Survey Kesehatan Rumah Tangga, mulai dari tahun 1986 sampai dengan 1995, insiden penyakit asma di Indonesia semakin meningkat dan masuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia.

Memang dalam 15-30 tahun terakhir, peningkatan penyakit asma di dunia terbilang significant, terutama di negara-negara Asia. Efek peningkatan penyakit asma ini tanpa banyak disadari orang ternyata membawa dampak buruk, diantaranya adalah penurunan etos dan produktivitas kerja masyarakat, meningkatnya angka tidak masuk sekolah, menurunkan kualitas hidup seseorang dan yang terakhir juga meningkatnya angka risiko perawatan dan kematian di Rumah Sakit.

Pada sebuah study khusus yang dilakukan oleh International Study of Astma and Allergies in Childhood (ISAAC), yang diterapkan pada anak SMP, didapatkan hasil bahwa semua dari anak-anak yang di survey, 64% nya memiliki gejala asma klasik.

Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, pasien-pasien penyakit asma yang berobat di Poliklinik Alergi Penyakit Dalam menunjukkan 64% pasien tidak terkontrol penyakitnya, 28% terkontrol baik dan 5% terkontrol sepenuhnya.

Perkembangan penyakit asma yang semakin pesat, seharusnya menjadi perhatian besar pemerintah dan para ahli kesehatan, hal ini dilakuakn agar dapat mengurangi tingkat morbilitas dan menurunkan angka kematian pasien.

Apa itu penyakit asma? Asma merupakan inflamasi (radang)  kronik pada saluran nafas. Penyakit asma berasal dari kata “asthma” yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “sukar bernapas.” 

Begitulah kiranya penyakit asma, yang ditandai dengan gejala kesulitan (sesak) dalam bernapas. Selain itu penderita asmapun seringkali batuk dan mengi yang diakibatkan oleh penyempitan saluran napas.

Inflamasi pada penderita asma disebabkan oleh banyak sel inflamasi, diantaranya sel mast, eusinofil, limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel. Penyakit asma ini cenderung diakibatkan oleh dua faktor yaitu: faktor penjamu yang mencakup genetika, alergi, jenis kelamin, hiperaktivitas bronkus dan etnik.

Faktor lainnya yang pastinya sangat besar pengaruhnya adalah faktor lingkungan seperti alergen yang menjadi faktor lingkungan pertama penyebab asma, selain itu bisa juga disebabkan oleh asap rokok, polusi udara, makanan, obat-obatan, infeksi pernafasan, obesitas, perubahan cuaca, bau-bauan (parfum) dan emosi yang tak terkontrol atau tingkat stress yang tinggi.

Orang dengan penyakit asma biasanya memiliki gejala yang sifatnya episodik. Untuk penderita yang belum diketahui apakah ia asma atau tidak, maka ia akan menunjukan gejala seperti sering batuk pada malam dan pagi hari, nafas berbunyi, rasa sesak dada, dahak yang sulit dikeluarkan.

Sedang untuk penderita yang parah, asma dapat dilihat dari kebiasaan seperti sering sesak napas, sulit tidur (lebih enak tidur posisi duduk), sianosis (kulit membiru) dan turunnya kesadaran.

Dan, untuk dengan cepat mendiagnosis penyakit asma, adalah dengan melihat gejala-gejalanya yang tampak jelas dan sering terjadi seperti batuk, sesak napas dan mengi. Tentu saja, diagnosis lainnya adalah dengan melihat sejauh mana fungsi paru pasien masih terbilang baik, dengan menggunakan alat spirometri.

Mengingat banyaknya faktor risiko yang berperan, maka sejauh ini prioritas penanggulangan lebih ke arah mengontrol gejala. Diharapkan dengan adanya kontrol yang baik dari pasien, keluarga atau tenaga kesehatan, hal ini dapat mencegah terjadinya eksaserbasi (kumatnya gejala penyakit asma), sehingga membantu menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas sosial yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Secara Garis besar ada 2 faktor pencetus serangan asma, yaitu faktor pada pasien dan faktor lingkungan.

  • Faktor pada pasien seperti aspek genetik, sensitivitas saluran nafas, jenis kelamin, dan ras.
  • Sedangkan faktor lingkungan, contohnya  asap rokok, polusi udara, infeksi saluran nafas, perubahan cuaca dan sebagainya.

Sedangkan asma lebih diklasifikasikan berdasarkan beratnya penyakit, yaitu : Intermiten, Persisten ringan, Persisten sedang, Persisten berat.

Lalu, apakah asma bisa disembuhkan? Bagaimana penanganannya?Â

Penanggulangan asma terbilang susah-susah mudah, asma sendiri terbilang penyakit yang bisa dikontrol apabila pasien mau menghindari faktor pencetusnya.

Penderita penyakit asma ini, biasanya harus meminum obat dalam waktu yang lama

Penderita penyakit asma ini, biasanya harus meminum obat dalam waktu yang lama, atau harus terus menyediakan obat, untuk suatu waktu asma mereka kambvuh. Dan, ino menjadi kendala pada mereka, yang memiliki banyak keterbatasan. Banyak obat herbal yang saat ini juga mulai dikembangkan ke arah sana. Diantaranya adalah:Jahe merah, Apel dan bengkuang.

Benarkah Penyakit Asma Adalah Resiko Seumur Hidup?
5 (100%) 1 vote[s]

Artikel Terkait

Bagikan Ke Temanmu: