Studi Ilmiah: Deodorant, Anti-perspirant Dan Pemicu Kanker Payudara

Studi Ilmiah: Deodorant, Anti-perspirant Dan Pemicu Kanker Payudara

Artikel di media cetak dan di internet telah memperingatkan bahwa antiperspirant atau deodoran dapat menyebabkan kanker payudara.

Laporan tersebut mengemukakan bahwa produk ini mengandung zat berbahaya, yang bisa diserap melalui kulit atau masuk tubuh melalui torehan akibat cukur bulu ketiak.

Beberapa ilmuwan juga telah mengusulkan bahwa bahan tertentu dalam antiperspirant ketiak atau deodoran mungkin terkait dengan kanker payudara karena sering diaplikasikan pada area di daerah getah bening.

Bagaimana deodorant menyebabkan kanker payudara?

Tubuh manusia memiliki beberapa area yang ia gunakan untuk membersihkan toksin, termasuk; di belakang lutut, di belakang telinga, area selangkangan, dan ketiak. Racun-racun ini dikeluarkan dalam bentuk keringat.

Anti-perspirant adalah sebuah produk kecantikan oles ketiak yang mencegah berkeringat sehingga menghambat tubuh membersihkan racun dan keringat.

Karena terblokir, racun tidak dan tubuh menyimpannya di kelenjar getah bening di bawah lengan. Hal ini menyebabkan tingginya konsentrasi toksin dan menyebabkan mutasi sel dan kanker payudara.

Pria atau wanita yang menggunakan anti-perspirant setelah mencukur bulu ketiak disinyalir meningkatkan masuknya bahan kimia ke tubuh dari daerah ketiak, pada akhirnya menjadi pemicu kanker payudara.

Menarik untuk dipikir bahwa anti-perspirants mungkin salah satu penyebab kanker payudara dengan alasan mencegah ekskresi racun tubuh melalui keringat, terakumulasi di kelenjar getah bening.

Hubungan antara deodorant dan kanker payudara

Pada tahun 2003, Dr. Kris McGrath, seorang ahli alergi dari Chicago, melakukan penelitian yang dipublikasikan di European Journal of Cancer Prevention.

Dia mempelajari 400 penderita kanker payudara di wilayah Chicago dan menemukan bahwa wanita yang menggunakan deodorant atau anti-perspirant memiliki peningkatan diagnosis kanker payudara 22 tahun lebih awal daripada wanita tanpa deodorant.

Dr. Kris McGrath berteori bahwa zat yang ditemukan pada deodoran seperti aluminium chlorohydrate memasuki sistem limfatik melalui pori-pori setelah wanita mencukur bulu ketiak.

Namun, penelitian tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan pasti antara deodorant dan kanker payudara karena beberapa spesialis lainnya mengungkapkan skeptisisme tentang kelemahan statistik dari penelitian Dr. McGrath, seperti misalnya, dia tidak memasukkan kelompok kontrol wanita tanpa kanker payudara.

Studi ilmiah – deodorant  tidak menyebabkan kanker payudara

Menurut American Cancer Society (ACS) penemuan rumor terkait penggunaan anti-perspirant atau deodorant dengan peningkatan risiko kanker payudara adalah persepsi salah atau tidak mendukung sama sekali.

Kelenjar getah bening membersihkan beberapa racun dari dalam tubuh, namun tidak harus dalam bentuk keringat. ACS juga tidak menemukan bukti bahwa zat pada deodoran atau antiperspirant menyebabkan kerusakan DNA yang memicu kanker payudara.

“Sama sekali tidak ada bukti ilmiah bahwa anti-perspirant atau deodorant menyebabkan atau bahkan meningkatkan risiko wanita terkena kanker payudara,” kata Debbie Saslow, PhD, direktur kanker payudara dan kanker leher rahim untuk American Cancer Society.

Pendapat ini diperkuat dengan beberapa studi ilmiah lain:

1. Pada tahun 2002 sebuah studi yang dipimpin oleh Dana K. Mirick, seorang ahli epidemiologi di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson Seattle, tidak menemukan hubungan antara kanker payudara dan penggunaan anti-perspirants.

Penelitiannya, yang dipublikasikan di Journal of National Cancer Institute, penelitian melibatkan 813 wanita yang menderita kanker payudara dan 793 wanita tanpa kanker payudara. Hasilnya: tidak menemukan korelasi antara kanker dan penggunaan kosmetik pengontrol bau badan.

2. Pada tahun 2006, sebuah penelitian di Irak meneliti penggunaan anti-perspirant dan faktor-faktor penyebab kanker payudara lainnya, di antara 54 wanita dengan kanker payudara dan 50 wanita tanpa kanker payudara.

Studi tersebut juga menemukan tidak ada hubungan antara penggunaan anti-perspirant dan risiko kanker payudara.

Namun, penelitian ini menemukan hubungan antara risiko kanker payudara dan faktor-faktor lain seperti riwayat keluarga dan penggunaan kontrasepsi oral.

Kesimpulan

Saat ini, National Institute of Health’s (NIH) & National Cancer Institute (NCI) mencatat bahwa tidak ada bukti konklusif yang ditemukan antara bahan aktif anti-perspirants atau deodoran dan pemicu kanker payudara.

Badan FDA juga tidak menemukan bukti atau data penelitian bahwa bahan-bahan di antiperspirant atau deodoran dapat menyebabkan kanker kanker payudara.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait