Hit enter after type your search item
Statistik Penyebaran Virus Corona Di Indonesia Dan Dunia - Terbaru Hari Ini!
Lihat Di Sini
Home / Definisi Penyakit / Sindrom Disekuilibrium Dialisis

Sindrom Disekuilibrium Dialisis

/
/
/
img
0
(0)

Fenomena dari efek samping dialisis yang melemahkan tubuh penderita ini bisa menimpa mereka yang baru menjalani cuci darah. Berbagai gejala tidak menyenangkan muncul setelah cuci darah, apa yang disebut sindrom disekuilibrium dialisis

1. Apa itu sindrom disekuilibrium dialisis

Definisi sindrom disekuilibrium dialisis adalah fenomena fisiologis dan neurologis yang biasa terjadi pada awal tahap cuci darah dimana sejumlah toksin dan cairan dikeluarkan selama dialisis.

Fenomena sindrom disekuilibrium dialisis sering terjadi setelah pasien gagal ginjal baru saja diinisiasi cuci darah; walaupun hal ini belum tentu terjadi di awal, namun juga bisa terjadi di tahap dialisis kemudian.

2. Gejala sindrom disekuilibrium dialisis

Gejalanya bisa bervariasi dari yang ringan seperti sakit kepala, sampai paling parah dimana pasien bisa mengalami koma, bahkan hingga mengancam jiwa penderitanya.

Berikut adalah daftar gejala yang non-inklusif:

– Mual
– Sakit kepala
– Disorientasi
– Kebingungan
– Sering Kram
– Migrain
– Kejang-kejang
– Koma

3. Patofisiologi sindrom disekuilibrium dialisis

Salah satu teori mengatakan tentang sebuah mekanisme yang dikenal teori – reverse osmotic shift- Apa artinya? Setelah dialisis dimulai, penghilangan toksin (urea darah) menyebabkan peningkatan secara relatif jumlah konsentrasi air masuk ke dalam darah.

Cairan yang dibawa darah bisa masuk ke sel otak sehingga terjadi pembengkakan otak, menyebabkan gangguan yang disebut edema serebral.

Pembengkakan sel otak melalui mekanisme ini telah dianggap sebagai salah satu alasan mengapa masalah neurologis dikaitkan dengan sindrom disekuilibrium dialisis.

4. Faktor risiko

Untungnya, sindrom dialisis adalah entitas jarang terjadi dan insiden kejadiannya pun terus menurun. Hal ini karena pasien gagal ginjal memulai dialisis dengan konsentrasi urea yang jauh lebih rendah dalam darah.

Beberapa faktor yang menyebabkan pasien berisiko tinggi untuk sindrom dialisis termasuk

– Lansia dan anak-anak
– Mereka yang baru mulai pada dialisis tahap awal
– Pasien memiliki kelainan neurologis sebelumnya, seperti kejang atau stroke
– Pasien hemodialisis, sindrom ini jarang pada pasien dialisis peritoneal

5. Pencegahan

Karena sindrom dialisis dianggap berkaitan dengan prosedur pembuangan toksin (urea), beberapa tindakan pencegahan tertentu mungkin bisa membantu. Ini hanya dikerjakan oleh ahli medis di rumah sakit.

Mengidentifikasi faktor risiko seperti disebutkan di atas, adalah langkah pertama. Di luar itu, ada beberapa strategi yang mungkin bisa membantu:

– Inisiasi dialisis lambat, membatasi sesi pertama sampai sekitar 2 jam dengan tingkat aliran darah lambat.
– Mengulang sesi selama 3-4 hari pertama, setiap hari, lebih sering, tapi dengan sesi “lebih lembut”.
– Infusi manitol

6. Pengobatan

Pengobatan sindrom dialisis berdasar gejala yang muncul. Mual dan muntah dapat diobati menggunakan obat-obatan seperti ondansetron. Jika kejang terjadi, mungkin menghentikan dialisis dan memulai pengobatan antiseizure. Intensitas dan agresivitas dialisis mungkin perlu dikurangi untuk perawatan ke depan

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
This div height required for enabling the sticky sidebar
Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :