Apa Itu Sarkoma Kaposi? Apa Kaitannya Dengan Virus Herpes?

Sarkoma kaposi adalah satu tipe kanker kulit yang berkembang di jaringan di bawah permukaan kulit di mana saja atau di selaput lendir mulut, hidung, atau anus. Abnormalitas penyakit ini 90% kasus muncul sebagai bercak-bercak dan benjolan yang menonjol mungkin merusak tetapi jarang menyebabkan rasa nyeri.

Kaposi‘s sarcoma biasanya tidak mengancam kehidupan atau melumpuhkan, tetapi kondisinya dapat mengancam kehidupan ketika kanker menyebar ke paru-paru, hati, atau saluran pencernaan yang ditandai perdarahan di saluran pencernaan atau kesulitan bernapas karena metastasis paru.

Sarkoma kaposi pada penderita AIDS

Kaposi‘s sarcoma disebabkan oleh sejenis virus herpes, yang disebut KSHV atau HHV (Kaposi’s sarcoma-associated herpes virus). Dalam 20 tahun terakhir, sebagian besar kasus Kaposi‘s sarcoma telah berkembang pada individu dengan infeksi HIV dan AIDS.

Kelompok-kelompok ini memiliki sistem kekebalan lemah, membuat mereka lebih rentan terhadap virus KSHV. Orang yang terinfeksi HIV memiliki peningkatan risiko Kaposi‘s sarcoma sebesar 450 kali lipat. Ketika Kaposi terjadi pada pasien AIDS, ia berkembang pesat dan berespons buruk terhadap pengobatan.

Kelompok lain yang mengalami penekanan kekebalan juga berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan Kaposi‘s sarcoma . Penerima transplantasi organ padat, termasuk ginjal, jantung, dan hati, memiliki risiko 128 kali lipat terkena penyakit ini. Virus penyebab sarkoma Kaposi ditularkan secara s3ksual, menyebabkan tingginya tingkat penularan di antara pria hom0sek5ual.

Apakah kaposi sarkoma penyakit keturunan? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sarkoma Kaposi adalah penyakit keturunan, dimana menunjukkan komponen genetik terhadap kerentanan. Karena sebagian besar Kaposi‘s sarcoma terjadi pada pasien AIDS dan pasien transplantasi.

Kaposi‘s sarcoma pada Pasien Transplantasi

Pasien menjalani transplantasi organ padat berisiko lebih tinggi mengalami sarkoma Kaposi. Namun, ini bukan penyakit agresif seperti terlihat pada pasien HIV. Kaposi‘s sarcoma pada pasien transplantasi sering tetap terlokalisasi pada kulit, tetapi bisa mungkin menular dan menyebar ke organ lain.

Manajemen pengendalian adalah mengurangi dosis obat imunosupresif setelah
Kaposi‘s sarcoma didiagnosis. Namun, tindakan ini membutuhkan kewaspadaan karena harus menyeimbangkan risiko mortalitas dan risiko penolakan organ, serta komplikasi gagal ginjal jika terapi imunosupresif dihentikan.

Dalam uji klinis yang melibatkan 14 penerima transplantasi ginjal, mereka mengembangkan sarkoma Kaposi, kecuali tumor mereka benar-benar hilang setelah obat imunosupresif mereka dihentikan. Satu pasien membutuhkan kemoterapi, dan dua pasien mengalami kerusakan fungsi ginjal.

Sebagian besar pasien akan menerima siklosporin untuk imunosupresi setelah transplantasi ginjal. Sirolimus (rapamycin) merupakan alternatif untuk siklosporin.

Para peneliti dari Spanyol pertama kali mencatat bahwa resiko sarkoma Kaposi mengalami penurunan setelah mengganti sirolimus untuk siklosporin. Mereka mengamati dua pasien yang memiliki regresi Kaposi‘s sarcoma setelah menghentikan siklosporin dan memulai sirolimus.

Sebuah uji klinis kecil yang melibatkan 15 pasien transplantasi ginjal telah mengkonfirmasi temuan ini. Tiga bulan setelah berganti menjadi sirolimus, semua pasien mengalami penurunan drastis untuk resiko penyakitKaposi‘s sarcoma .

Apa Itu Sarkoma Kaposi? Apa Kaitannya Dengan Virus Herpes?
5 (100%) 1 vote
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!