Hit enter after type your search item
Statistik Penyebaran Virus Corona Di Indonesia Dan Dunia - Terbaru Hari Ini!
Lihat Di Sini
Home / Penyakit / Kanker Kulit / Jenis-Jenis Kanker Kulit Di Hidung, Biasanya Yang Sering Muncul

Jenis-Jenis Kanker Kulit Di Hidung, Biasanya Yang Sering Muncul

/
/
/
img
0
(0)

Kanker kulit di hidung merupakan hasil dari pertumbuhan sel-sel kulit yang abnormal, liar dan tak terkendali di bagian wajah Anda. Kanker kulit dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh, terutama area yang sering terkena sinar matahari.

Hidung merupakan bagian wajah yang paling menonjol sehingga lebih rentan terhadap kerusakan berkelanjutan dari pengaruh sinar ultraviolet matahari. Paparan sinar matahari yang berlebihan meningkatkan risiko mengembangkan salah satu jenis kanker kulit di hidung Anda.

Berikut adalah beberapa jenis kanker kulit yang sering muncul di hidung Anda berdasar tipe dan gejala-gejalanya

  • Kanker Sel Basal

Kanker sel basal adalah jenis kanker kulit non-melanoma, dan hidung adalah tempat paling umum sel kanker berada. Kanker dimulai di sel basal. Sel-sel basal berada di bagian bawah epidermis. Sel-sel basal bekerja menghasilkan lebih banyak keratinosit.

Gejala kanker sel basal di hidung ditandai lesi terasa perih yang sulit sembuh. Munculnya lesi dapat membantu menentukan jenis kanker kulit yang ada. Kanker sel basal sering menghasilkan luka yang terlihat seperti lilin. Daerah berlilin ini terlihat seperti bekas luka jerawat, sehingga sering diabaikan.

Sel kanker di hidung tumbuh perlahan, namun tidak berpotensi menyebar ke kelenjar getah bening atau organ dalam. Namun, bagaimanapun, kanker bisa menyebabkan kerusakan luas pada jaringan sekitarnya, hidung dan wajah Anda. Meskipun bisa diobati, kanker di hidung memiliki tingkat kekambuhan tinggi.

  • Kanker Sel Skuamosa

Karsinoma sel skuamosa diklasifikasikan sebagai kanker non-melanoma, adalah jenis kanker kulit kedua yang dapat muncul di hidung, dan dimulai pada sel-sel datar kulit yang terletak di lapisan terluar epidermis, disebut sebagai stratus korneum atau sel skuamosa.

Sel-sel kulit datar ini membentuk lapisan akhir sel-sel hidup di epidermis. Karsinoma sel skuamosa menyumbang sekitar 20 persen dari kasus kanker kulit yang didiagnosis setiap tahun, seperti yang dilaporkan American Academy of Dermatology pada 2010.

Gejala kanker sel skuamosa di hidung ditandai bercak merah, bersisik atau berkerak. Setiap nodul atau papula dengan warna merah yang terasa kaku untuk disentuh ini mengindikasikan adanya pertumbuhan karsinoma sel skuamosa.

Pada hidung, kanker sel skuamosa lebih agresif daripada kanker sel basal karena paparan UV yang tinggi dan jika tidak segera ditangani. Sel kanker dapat menyebar ke kelenjar getah bening atau bermetastasis ke organ lain, seperti otak dan paru-paru.

  • Melanoma

Kulit hidung mengandung dua jenis utama sel: keratinosit dan melanosit. Keratinosit berfungsi menghasilkan keratin protein, dan melanosit menghasilkan pigmen melanin.

Kanker melanoma di hidung dimulai pada melanosit. Tumor jinak melanosit, yang umum dikenal sebagai tahi lalat, sering membuatnya sulit untuk mendeteksi keberadaan kanker melanoma karena hampir memiliki bentuk dan warna yang sama. Baca lebih lanjut: ciri-ciri melanoma

Gejala melanoma di hidung dimulai pada melanosit di hidung itu sendiri, biasanya ditandai lesi kulit coklat atau hitam, tetapi kadang juga menghasilkan lesi sesuai warna kulit itu sendiri.

Tak hanya hidung, melanoma dapat berkembang di tubuh mana saja, tetapi umumnya berkembang di daerah yang sering terpapar matahari termasuk hidung dan wajah Anda.

Jika tidak ditangani, melanoma dapat menyebar ke kelenjar getah bening dan organ lain di dalam tubuh. Kanker kulit melanoma paling menyebabkan ancaman jiwa bagi penderitanya.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
This div height required for enabling the sticky sidebar
Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :