Studi: 6 Bukti Lemah Terkait Nasi Putih Penyebab Diabetes Tipe 2

Nasi Putih Penyebab Diabetes

Mengganti nasi putih dengan nasi merah atau gandum bisa mengurangi risiko diabetes hingga sepertiganya. Berita ini didasarkan pada sebuah penelitian bahwa risiko diabetes seseorang berkurang sebesar 16% jika sebagian nasi putih diganti dengan nasi merah; atau berkurang 36% jika nasi putih ditukarkan dengan gandum.

Studi ini tampaknya memiliki banyak kekuatan, namun juga memiliki beberapa kelemahan karena sebagai studi kohort, tidak bisa membuktikan sebab-akibat, tapi hanya menarik asosiasi saja.

Ada kemungkinan faktor lain bertanggung jawab atas risiko, walaupun para periset menyesuaikan temuan mereka dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut.

Asal studi analisis

Penelitian ini dilakukan oleh para periset dari Harvard School of Public Health, Brigham and Women’s Hospital and Harvard Medical School,semua di Boston, Massachusetts, didanai oleh US National Institutes of Health dan dipublikasikan di jurnal peer-reviewed Archives of Internal Medicine.

Secara keseluruhan, liputan BBC itu akurat, namun laporan tentang risiko diabetes dapat dikurangi hingga “sepertiga” dengan mengganti nasi putih atas nasi merah atau roti gandum, itu mungkin tidak benar dan bahkan menyesatkan.

Beras putih segera menyebabkan kenaikan kadar gula darah, yang diukur dengan indeks glisemik (GI), sedangkan beras merah, seperti gandum dan lainnya, melepaskan gula dan energi lebih lambat.

Glisemik Indeks (GI) lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan risiko menyebabkan diabetes tipe 2 yang lebih tinggi daripada makanan berglisemik indeks rendah.

Untuk memeriksa hubungan antara nasi putih dan risiko diabetes, para peneliti menggunakan data dari tiga penelitian kohort dalam prospektif besar di AS, termasuk informasi tentang diet.

Studi kohort prospektif ini juga mencatat rincian seperti diet dan gaya hidup untuk melihat faktor risiko yang mungkin terkait dengan perkembangan penyakit. Namun, dengan sendirinya, studi kohort prospektif tetap tidak dapat membuktikan sebab dan akibat.

Secara keseluruhan, studi  ini melibatkan 40.000 pria dan sekitar 157.000 wanita, jumlah peserta seluruhnya 197.000 orang.

Apa hasil penelitian?

Dari 197.000 orang, hanya 10.507 orang menderita diabetes selama kurun 14-22 tahun masa tindak lanjut. Ini berarti risiko absolut hanya 5% agak lebih sedikit . Atas hasil ini, mereka menyimpulkan:

– Orang yang makan nasi putih memiliki risiko diabetes sebesar 17%
– Orang yang makan beras merah memiliki risiko diabetes 11%
– Para periset memperkirakan bahwa mengganti 50 gram sehari nasi putih dengan jumlah beras merah sama akan berisiko DM tipe 2 pada 16% lebih rendah
– Mengganti nasi putih dengan gandum akan menurunkan risiko diabetes pada 36% (atau 30-42%).

Para periset berkomentar bahwa konsumsi beras putih dikaitkan dengan risiko diabetes yang lebih tinggi, sedangkan beras merah dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah.

Mereka menyarankan agar otoritas kesehatan masyarakat merekomendasikan agar orang-orang menukar nasi putih, dengan gandum utuh, dengan tujuan untuk mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Kesimpulan

Studi ini tampaknya menjadi yang pertama untuk mengevaluasi asupan beras putih sehubungan dengan risiko diabetes di antara populasi Barat. Studi kohort tersebut memiliki temuan ini yang berarti peneliti telah memperhitungkan banyak faktor risiko.

Namun, terlepas dari kualitas penelitian, hasilnya tidak membuktikan, atau pembuktian ini masih lemah terkait mengonsumsi nasi putih menyebabkan diabetes tipe 2.

Studi ini memiliki beberapa keterbatasan dan kelemahan. 6 Bukti lemah itu diantaranya

1. Ini adalah studi kohort dan karenanya tidak bisa membuktikan sebab-akibat, tapi hanya menarik asosiasi saja
2. Populasi penelitian utama adalah orang-orang keturunan Eropa, sehingga hasilnya mungkin tidak secara otomatis berlaku sama untuk kelompok lain di populasi berbeda.
3. Meskipun para peneliti mempertimbangkan banyak faktor dalam analisis mereka, ada kemungkinan faktor penyebab lain juga bertanggung jawab atas temuan ini.
4. Para peserta hanya melaporkan apa yang mereka makan tanpa melaporkan kebiasaan gaya hidup yang dianggap berkontribusi terhadap perkembangan diabetes tipe 2, sehingga memberi hasil uji yang bias.
5. Para periset menunjukkan bahwa ada potensi meminimalkan kesalahan dengan menghentikan asupan makanan setelah peserta melaporkan kondisi diabetes.
6. Diagnosis diabetes tidak bisa hanya dikonfirmasi dengan tes toleransi glukosa. Namun, ekstra kuesioner akan mengkonfirmasikan diagnosis dan ini telah terbukti sangat andal dalam menegakkan sebuah diagnosis.

Namun, mereka merekomendasi bahwa orang harus menjaga tetap aktif fisik, diet seimbang yang rendah lemak jenuh, garam dan gula, memperbanyak buah dan sayuran, untuk mengurangi risiko diabetes tipe 2 (NHS Choices)

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait