Studi: Besar Risiko DM Tipe 2 Pada Anak 9 -10 th Yang Sering Tidak Sarapan

Studi: Besar Risiko DM Tipe 2 Pada Anak 9 -10 th Yang Sering Tidak Sarapan

Melewatkan sarapan di masa kanak-kanak usia 9 – 10 th dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di masa depan. Sebuah studi tentang anak-anak sekolah di Inggris menemukan bahwa anak-anak yang sering tidak sarapan pagi memiliki tanda-tanda awal adanya penanda risiko diabetes tipe 2.

Studi tersebut menemukan bahwa anak-anak yang biasanya tidak makan sarapan memiliki resistansi insulin 26% lebih tinggi daripada anak-anak yang selalu sarapan pagi. Resistansi insulin tinggi meningkatkan risiko diabetes tipe 2, oleh karena itu hasil penelitian ini penting untuk umum.

Para periset tersebut menanyai lebih dari 4.000 anak berusia 9 dan 10 tahun tentang sarapan pagi mereka. Periset juga mengambil sampel darah puasa untuk mengukur tingkat gula darah dan tingkat insulin mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak sarapan pagi dapat meningkatkan resistensi insulin

Asal penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh para periset dari Rumah Sakit Universitas St George di London, Universitas Oxford, Medical Research Council Human Nutrition Research di Cambridge dan University of Glasgow School of Medicine, didanai oleh Diabetes UK, Wellcome Trust, dan National Prevention Research Initiative.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal medis peer-review PLOS Medicine, sebuah jurnal dengan open akses sehingga bebas untuk dibaca secara online.

Konsep penelitian

Penelitian adalah cross-sectional terhadap anak-anak berusia sembilan dan 10 tahun di Inggris yang bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara sarapan pagi dan penanda diabetes tipe 2, khususnya resistensi insulin dan kadar gula darah tinggi.

Karena ini adalah penelitian cross-sectional, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa tidak sarapan pagi menyebabkan anak-anak berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2, namun ini dapat menunjukkan bahwa ada hubungan sebab akibat.

Penelitian ini mengundang anak-anak berusia sembilan dan 10 dari 200 sekolah yang dipilih secara acak di London, Birmingham dan Leicester. Beberapa pertanyaan terkait seberapa sering mereka sarapan pagi, dengan beberapa jawaban dari mereka sebagai berikut:

– setiap hari
– kebanyakan hari
– Hanya beberapa hari
– Kadang-kadang

Dari 4.116 anak-anak:

– 3,056 (74%) makan sarapan setiap hari
– 450 (11%) sarapan hampir setiap hari
– 372 (9%) sarapan hanya beberapa hari
– 238 (6%) Kadang-kadang atau jarang sarapan

Hasil Penelitian

Dibandingkan anak-anak yang sarapan setiap hari, anak-anak yang jarang/ tidak sarapan pagi memiliki:

– Tingkat insulin puasa lebih tinggi 26%
– Resistansi insulin 26,7% lebih tinggi
– Nilai HbA1c 1,2% lebih tinggi, kadar glukosa darah 1% lebih tinggi

Kesimpulan

Studi yang dirancang dengan baik ini telah menemukan bahwa anak-anak yang biasanya tidak sarapan pagi memiliki resistansi insulin 26% lebih tinggi daripada anak-anak yang selalu sarapan pagi, meski itu tergolong masih dalam kadar batas normal.

Namun, tingkat resistensi insulin yang lebih tinggi menunjukkan penanda dan risiko diabetes tipe 2 di masa depan, oleh karena itu hasil penelitian ini penting untuk dipublikasikan.

Keterbatasan penelitian ini adalah karena terdesain cross-sectional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa ada kaitan antara tidak sarapan bisa menyebabkan diabetes. Akan tetapi itu menunjukkan bahwa risiko diabetes mulai ada penandanya.

Mengkonsumsi sarapan sehat yang kaya serat telah dikaitkan dengan banyak manfaat kesehatan dan dianggap berkontribusi untuk menjaga berat badan yang sehat. Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk memverifikasi kaitan antara risiko diabetes pada anak-anak yang sering tidak sarapan (NHS Choices).

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait