Studi Ilmiah: Pengaruh EGCG Teh Hijau Terhadap Arthritis Rheumatoid

Teh Hijau Untuk Artritis Reumatoid

Sifat anti-inflamasi teh hijau bermanfaat untuk mengatasi nyeri sendi, pembengkakan dan kerusakan jaringan yang disebabkan oleh rheumatoid arthritis, kata periset di Washington State University (WSU tim) di Spokane.

Rheumatoid arthritis adalah kelainan autoimun yang melemahkan jaringan yang terkena, dan sebagian besar mempengaruhi sendi kecil di tangan dan kaki. Ini menyebabkan pembengkakan dan nyeri sendi menyakitkan yang berkembang menjadi kerusakan tulang rawan, erosi tulang hingga deformitas sendi.

“Fitokimia yang ditemukan dalam teh hijau yang disebut epigallocatechin-3-gallate (EGCG) mengurangi peradangan pergelangan kaki pada model hewan dalam 10 hari.

Obat-obatan yang ada untuk rheumatoid arthritis mahal, dan imunosupresif kadang tidak sesuai untuk penggunaan jangka panjang,” kata Salah-uddin Ahmed, peneliti utama WSU dalam proyek tersebut.

Timnya mengevaluasi fitokimia yang disebut epigallocatechin-3-gallate (EGCG), molekul dengan sifat anti-inflamasi yang ditemukan dalam teh hijau. Studi mereka menunjukkan bahwa EGCG memiliki potensi tinggi sebagai pengobatan alternatif Artritis Reumatoid karena efektifitas molekul EGCG menghambat nyeri akibat penyakit tanpa menghalangi fungsi seluler lainnya.

“Penelitian ini telah membuka bidang penelitian untuk menggunakan EGCG dengan menargetkan TAK1 – sebuah protein untuk persinyalan penting – di mana sitokin proinflamasi ini mengirimkan sinyal untuk menyebabkan radang dan kerusakan jaringan pada rheumatoid arthritis,” kata Ahmed.

Para peneliti mengkonfirmasi temuan mereka dalam model hewan yang mengalami pembengkakan pergelangan kaki akibat artritis. Hewan dengan artritis yang diberi EGCG dalam kurang 10 hari terjadi pengurangan tingkat peradangan.

Tim beranggota periset Anil Singh dan Sadiq Umar, telah mempelajari rheumatoid arthritis dan penyakit peradangan lainnya di WSU College of Pharmacy di Spokane sejak tahun 2014. Mereka bergabung dengan para peneliti dari National Institute of Pharmaceutical Education and Research di Hajipur, India.

Ahmed telah memfokuskan studinya pada penelitian yang berkaitan dengan rheumatoid arthritis selama 15 tahun terakhir. Penemuan ini ditampilkan di cover Arthritis and Rheumatology, dalam sebuah jurnal American College of Rheumatology.

Sumber: Eurekalert

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait

  • Wanita Gemuk Berpinggang Besar Lebih Berisiko Artritis Reumatoid Radang sendi Artritis Reumatoid adalah penyakit radang kronis di persendian dan jaringan sekitarnya. Ini adalah penyakit autoimun. Penyebab pastinya belum diketahui, namun faktor risiko semisal infeksi, mutasi gen dan perubahan hormonal […]
  • IStilah Dan Kamus Reumatoid Artritis Reumatoid artritis (RA) adalah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang persendian menyebabkan peradangan jaringan yang melapisi bagian dalam sendi (synovium) Sinovium berperan membuat cairan yang melumasi […]
  • 23 Cara Terapi Alami Untuk Artritis Reumatoid Dari Ahli Naturopati Dokter yang mengkhususkan diri pada perawatan alami disebut naturopatis. Pengobatan naturopati bertujuan untuk membantu tubuh menyembuhkan dirinya sendiri dengan modalitas bahan alami atau suplemen alami. Dr. Andrew Weil, MD, di situsnya […]
  • Artritis Rheumatoid Artritis Rheumatoid adalah radang sendi kronis yang bersifat autoimun, inflamasi, dan kadang sistemik. Rheumatoid arthritis adalah jenis peradangan sendi yang bersifat kronis, sedangkan osteoartritis adalah jenis arthritis yang paling […]
  • Dosis, Efek Samping & Gejala Alergi Methotrexate Untuk Reumatoid Artritis Dosis metotreksat untuk rheumatoid arthritis atau radang/nyeri sendi, atau jenis arthritis lainnya harus diminum setiap minggu, tidak setiap hari seperti kebanyakan obat lain, kecuali jika dokter Anda telah benar-benar […]