Wanita Gemuk Berpinggang Besar Lebih Berisiko Artritis Reumatoid

Radang sendi Artritis Reumatoid adalah penyakit radang kronis di persendian dan jaringan sekitarnya. Ini adalah penyakit autoimun. Penyebab pastinya belum diketahui, namun faktor risiko semisal infeksi, mutasi gen dan perubahan hormonal dikaitkan penyebab penyakit ini.

Rheumatoid arthritis dapat terjadi pada usia berapapun, namun lebih sering terjadi pada usia paruh baya. Wanita lebih rentan terhadap penyakit dibanding pria.

Rheumatoid arthritis menyebabkan rasa sakit, bengkak, kaku dan kehilangan fungsi di persendian. Sebagai penyakit sistemik, ia juga cenderung mempengaruhi organ tubuh lainnya.

Rheumatoid arthritis membutuhkan pengobatan seumur hidup dengan perawatan medik, terapi fisik, olahraga, edukasi dan kadang butuh operasi.

Meskipun penyebab pasti Artritis Reumatoid tidak diketahui, orang memiliki Human Leukocyte Antigen (HLA) DR4 dan jenis kelamin hanya sedikit dipengaruhi faktor risiko penyakit. Kini, obesitas dan lingkar pinggang besar dikaitkan sebagai faktor risiko Artritis Reumatoid

Wanita obesitas dan arthritis rheumatoid

Sebuah studi baru-baru ini meneliti obesitas perut, persentase lemak tubuh dan indeks massa tubuh (IMT), menunjukkan bahwa ada hubungan antara kelebihan berat badan, obesitas dan risiko arthritis rheumatoid pada wanita.

Studi dipimpin oleh Dr. Asta Linauskas dari University Hospital, Aarhus, Denmark menyimpulkan

– Wanita yang mengalami obesitas berdasarkan presentase indeks massa tubuh, lemak perut dan lemak tubuh berisiko tinggi terhadap rheumatoid arthritis.
– Ukuran pinggang > 88 cms berhubungan dengan lemak perut dan BMI> 28 – 30kg / m2 adalah kriteria penilaian untuk faktor risiko.
– Risiko arthritis rheumatoid pada pria dengan obesitas, lemak tubuh dan lemak perut; hasilnya tidak jelas

Hubungan obesitas dan artritis reumatoid

Bahan kimia peradangan dari lemak berperan sebagai penyebab artritis reumatoid. Beberapa bahan kimia ini, yang disebut sitokin, dapat mempengaruhi sistem tubuh, termasuk sistem muskuloskeletal dan kardiovaskular.

Salah satu sitokin tersebut adalah adipokin, bahan kimia yang mempromosikan peradangan,” kata Jon Giles, MD, asisten profesor kedokteran rheumatologi di Columbia University College of Physicians and Surgeons, di New York.

Sitokin lain yang dilepaskan oleh lemak adalah tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha) dan interleukin-1 (IL-1). Keduanya sangat aktif sebagai pro inflamasi pada artritis reumatoid.

Selain itu, peneliti telah menemukan kelebihan lemak di sekitar perut (dikenal sebagai lemak visceral), sebagai faktor penghasil sitokin adipokin untuk pengembangan artritis reumatoid, penyakit jantung dan resistensi insulin.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Bagikan Pada Temanmu!