Obat PPI Untuk Asam Refluks Diam-Diam Sebabkan Gagal Ginjal

Obat PPI Untuk Asam Refluks Diam-Diam Sebabkan Gagal Ginjal

Sorotan:

– Proton pump inhibitor (PPI) seperti Lansoprazole (Prevacid), Omeprazole (Prilosec), Esomeprazole (Nexium) dan Pantoprazole (Protonix) adalah obat sakit maag (heartburn) yang populer digunakan dalam pengobatan ulkus dan reflux asam lambung
– Efek samping Proton pump inhibitor bisa mengakibatkan kerusakan ginjal kronis dan permanen, secara bertahap dan diam-diam.
– Masalah ginjal mungkin menjadi tanda peringatan bagi dokter untuk menghentikan obat PPI bagi pasien berisiko

Masalah ginjal serius ditemukan terkait efek samping jangka panjang minum obat penyakit reluks asam lambung atau maag yang populer untuk jangka waktu lama, ungkapan sebuah studi dari Washington University di St.Louis. Penelitian ini dipublikasikan secara luas di jurnal Kidney International

Obat PPI (Proton pump inhibitor) diresepkan untuk orang yang menderita sakit maag, ulkus lambung dan reflux gastroesofagus untuk memberi kelegaan dengan mengurangi tingkat kenaikan asam lambung.

Sebagian besar orang menganggap obat ini sebagai obat bebas, tanpa pemberitahuan dokter. Lansoprazole (Prevacid), Omeprazole (Prilosec), Esomeprazole (Nexium) dan Pantoprazole (Protonix) adalah beberapa obat inhibitor pompa proton yang dijual bebas kepada umum untuk perawatan.

Lebih dari separuh dari 125.000 pasien dari 5 juta penderita asam refluks di AS,  mengalami kerusakan ginjal kronis akibat mengkonsumsi obat sakit maag, padahal mereka tidak memiliki masalah ginjal akut sebelumnya. Ini berarti bahwa mereka tidak mengetahui adanya penurunan fungsi ginjal mereka, artinya, kerusakan ini secara silent (diam-diam).

Dokter dan pasien yang memakai PPI harus menyadari konsekuensinya. Ziyad Al-Aly, MD, penulis senior studi dan asisten profesor kedokteran di Washington University School of Medicine, mengatakan bahwa onset dari ginjal akut mungkin kurang diandalkan terkait penurunan fungsi ginjal di antara pasien yang memakai PPI.

Penulis juga mengemukakan bahwa masalah ginjal dapat berkembang secara bertahap dan diam-diam dalam jangka panjang, menyebabkan kerusakan ginjal kronis. Pasien harus memberi tahu dokter mereka tentang penggunaan Proton pump inhibitor (PPI) yang dijual bebas tersebut.

Studi penelitian ini mungkin termasuk penulis pertama Yan Xie, seorang ahli biostatistik di St.Louis, menganalisis data dari database Department of Veteran Affairs tentang 125.596 pengguna baru obat PPI. Dan 18.436 obat sakit maag yang disebut H2 blocker. Orang-orang ini cenderung tidak memiliki gejala masalah ginjal.

Setelah lima tahun masa tindak lanjut, tim peneliti menemukan bahwa sekitar 80% pengguna PPI juga tidak memiliki masalah ginjal akut. Ginjal akut ditandai dengan terlalu sedikit urine di tubuh dan pembengkakan di kaki.

AKan tetapi, orang dengan gagal-ginjal kronis dan penyakit ginjal stadium akhir terkait dengan penggunaan PPI, justru ditemukan terjadi pada orang tanpa masalah ginjal akut. Kita tahu, penyakit ginjal akut merupakan awal dari perkembangan ginjal kronis.

Sementara, pada H2 bloker, 7,67% orang mengembangkan penyakit ginjal kronis tanpa mengalami gejala ginjal akut dan 1,27% orang ditemukan mengembangkan penyakit ginjal stadium akhir dimana ginjal mereka tidak dapat lagi berfungsi membuang produk limbah dari tubuh. Pasien-pasien ini mungkin memerlukan dialisis.

Ziyad Al-Aly kepala staf penelitian dan pendidikan, VA’s Clinical Epidemiology Center, mengatakan, “Dokter harus memperhatikan fungsi ginjal pada pasien tatkala mereka menggunakan PPI, walaupun tidak ada tanda-tanda masalah ginjal.”

“Secara umum, kami selalu menyarankan dokter untuk mengevaluasi apakah penggunaan PPI secara medis diperlukan di bagian pertama, karena obat tersebut membawa risiko signifikan, termasuk penurunan fungsi ginjal.” Pungkasnya.

Referensi

– Yan Xie, Benjamin Bowe, Tingting Li, Hong Xian, Yan Yan, Ziyad Al-Aly. Long-term kidney outcomes among users of proton pump inhibitors without intervening acute kidney injury. Kidney International, February (2017);DOI: 10.1016/j.kint.2016.12.021

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait