Komplikasi Infeksi Bakteri SBP Pada Cairan Asites

Bakteri Spontaneous Peritonitis atau bakteri SBP adalah mikroorganisme yang tumbuh berkembang dan meng infeksi cairan asites, sebagai hasil dari translokasi bakteri lumen usus atau kadang akibat dari infeksi saluran kemih.

Orang yang memiliki penyakit sirosis hepatis berisiko komplikasi untuk infeksi bakteri SBP dalam cairan asites yang menumpuk di rongga perut, dikenal dengan bakteri spontaneous peritonitis atau bakteri SBP.

Penyebab infeksi cairan asites

Sebagian besar kasus infeksi bakteri SBP di cairan asites disebabkan oleh organisme enterik gram negatif seperti Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan bakter gram positif seperti Streptococcus pneumoniae.

Bakteri SBP (Spontaneous bacterial peritonitis) hidup dalam cairan asites tanpa diketahui secara pasti bagaimana komplikasi ini terjadi, namun infeksi ini paling sering terjadi ketika seseorang telah memiliki penyakit hati kronis dalam jangka panjang, serta kurang menjaga kebersihan.

Infeksi Bakteri SBP adalah komplikasi umum dari pasien sirosis hati yang memiliki asites. SBP adalah jenis infeksi perut yang disebabkan oleh bakteri patogen.

Pada sirosis hati stadium lanjutan, penyakit liver kronis ini menyebabkan pasien mengalami sindrom nefrotik yang memungkinkan untuk perkembangan bakter SBP.

Pasien sirosis hati dengan asites yang terinfeksi bakteri SBP, sangat sulit untuk ditangani. Karena itu, bakteri SBP adalah salah satu penyebab mortalitas bagi penderita sirosis hati pada stadium akhir.

Tingkat mortalitas akibat bakteri SBP antara 48% sampai 57%. Oleh sebab itu, pengobatan asites dilakukan sejak dini untuk mencegah perkembangan bakteri SBP.

Dengan perkembangan tingkat pengobatan, angka mortality menurun hingga 20% sampai 40% di antara pasien sirosis hepatis stadium lanjut.

Gejala dan tanda-tanda

Gejala-gejala dan tanda-tanda infeksi bakteri spontan peritonitis pada sirosis hepatis adalah, termasuk:

1. Demam.
2. Sakit perut disertai dengan hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan diare.
3. Iritasi peritoneal yang ditandai dengan perut terasa perih.
4. Perkembangan asites yang cukup cepat.

Percepatan pembengkakan perut akibat asites membuat penderita merasa tersiksa akibat tekanan dalam perut, obat diuretik tidak bekerja, dan kesulitan napas karena cairan bisa melampaui paru-paru.

Pengobatan

Infeksi Bakteri Spontaneous Peritonitis biasanya diobati dengan antibiotik seperti sefotaksim (Claforan). Obat-obatan ini dapat menonaktifkan bakteri yang biasanya ditemukan dalam usus.

Dokter mungkin melakukan prosedur yang disebut paracentesis untuk mengambil sampel cairan asites dari perut, guna mendeteksi adanya infeksi bakteri SBP

Cairan asites akan dianalisis untuk mengetahui antibiotik mana yang dipilih dan yang bekerja terbaik untuk melumpuhkan bakteri penyebab infeksi.

Beberapa terapi pengobatan pendukung, antara lain

1. Terapi antimikroba.

Beberapa obat antibiotik akan diresepkan dokter sebagai pengobatan empiris untuk terapi mikroba.

Namun, resistensi bakteri terhadap obat biasanya tidak sama untuk tiap wilayah dan rumah sakit, dibutuhkan data akurat yang paling trend untuk menyesuaikan antibiotik lokal.

2. Pengobatan Asites

Ketika diuretik kehilangan efeknya, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan tusuk perut atau parasentesis abdomen.

Namun, terapi paracentesis sederhana dapat menyebabkan komplikasi atau efek sampingan seperti hipovolemia, hiponatremia, disfungsi ginjal dan ensefalopati hepatik.

Untuk mencegah efek yang tidak diinginkan, biasanya dokter akan melengkapi atau menambahkan protein yang cukup untuk mengimbangi besar volume cairan yang dihapus selama prosedur parasentesis.

3. Pengobatan dengan terapi albumin.

Penelitian menunjukkan bahwa terapi suntik intravena albumin bersama dengan antibiotik dapat menurunkan angka mortality akibat insufisiensi ginjal.

Jika penderita penyakit sirosis hepatis menunjukkan tingkat kerusakan yang cepat pada fungsi hati dan ginjal, adanya penyakit kuning atau ensefalopati hepatik; dokter akan memeriksa apakah mereka mengembangkan infeksi peritonitis bakteri spontan atau tidak.

Setelah didiagnosis, penderita biasanya harus menerima pengobatan antibiotik sekaligus terapi albumin untuk meningkatkan efek pencegahan terhadap infeksi.

Penyandang sirosis hepatis dengan asites yang berkomplikasi infeksi bakteri SBP perlu mengambil antibiotik oral jangka panjang untuk menghindari infeksi terulang kembali.

Pencegahan infeksi bakteri SBP

Sirosis hepatis yang disertai dengan komplikasi bakteri SBP membutuhkan perawatan dan penanganan secara komprehensif.

Karena tingkat pengobatan yang sulit, maka penanganan penyakit dititik fokuskan pada pencegahan infeksi.

Kunci utama pencegahan infeksi cairan asites ini adalah secara efektif mengendalikan infeksi, menjaga kebersihan, mencegah ensefalopati hati dan mengontrol elektrolit cairan.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Bagikan Pada Temanmu!

Artikel Terkait

  • Komplikasi Gagal Ginjal Pada Sirosis Hati Gagal Ginjal Pada Sirosis Hati. Penyakit liver kronis menyebabkan gagal fungsi ginjal terkait asites dan edema, dimana ginjal mengalami kerusakan secara progresif yang disebut sindrom hepatorenal. Komplikasi gagal ginjal ini adalah […]
  • Komplikasi Sirosis Hati: Gagal Fungsi Hati Akut Dan Kronis Komplikasi gagal fungsi hati baik akut maupun kronis pada sirosis hepatis akibat jaringan parut yang telah menyebar luas di seluruh hati, mengakibatkan hati mengalami malfungsi atau tidak dapat menjalankan tugas sebagaimana hati normal […]
  • Komplikasi Kanker Hati Pada Sirosis Hati Jaringan parut parah pada sirosis hati menyebabkan komplikasi kanker hati, dikenal dengan istilah hepatoseluller karsinoma. Kanker hati pada sirosis hepatis tidak bermetastasis seperti kanker jenis lainnya dan tipe ini lebih sering […]
  • Hipertensi Portal Sirosis hepatis tahap lanjut menyebabkan komplikasi yang disebut hipertensi portal akibat pembatasan aliran darah yang melalui hati ke vena hepatika. Hipertensi portal terjadi adanya peningkatan resistensi terhadap aliran darah yang […]
  • Hematemesis Dan Melena Hematemesis Dan Melena. Muntah darah dan berak darah merupakan komplikasi sirosis hati serius yang membahayakan jiwa. Varises berkembang di kerongkongan dan pencernaan atas yang mengakibatkan pendarahan gastrointestinal. Pada […]