Potensi Jamu Tradisional Dalam Aspek Saintifikasi Pengobatan Alternatif

Jamu saat ini sudah menjadi pembicaraan banyak kalangan, mulai dari kalangan dengan pendidikan tinggi, menegah dan berpendidikan rendah. Amuan jamu, bagi sebagian pihak bukan lagi dianggap sebagai alternative dalam penyembuhan, namun bisa diposisikan sebagai pilihan utama.

Banyak masyarakat menganggap potensi jamu tidak kalah dengan potensi obat konvensional. Potensi jamu ini juga diimbangi dengan efek sampingnya yang lebih minimal.

Pengetahuan masyarakat tentang jamu perlu bimbingan yang adequate. Hal ini terkait, jamu juga merupakan bahan yang dikonsumsi, sehingga bukan sekadar khasiat yang diutamakan, tetapi juga mutu dan keamanan.

Masyarakat jangan hanya bicara jamu dari sisi potensi jamu saja, karena banyak pihak yang akan menambah-nambahkan potensi ini tanpa didukung oleh pengetahuan yang kuat.

Pemerintah, khususnya tenaga kesehatan, perlu melakukan sosialisasi mengenai potensi jamu yang diimbangi dengan hal-hal lainnya termasuk keamanan, agar informasiii   pada masyarakat seimbang.

Saintifikasi Jamu Hadir Karena Potensi Jamu Yang Besar

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya dalam tulisan ini, potensi jamu yang besar dan kepercayaan masyarakat atas potensi jamu tersebut, membentuk sebuah cita-citaq pemerintah untuk menghadirkan saintifikasi jamu. Didukung oleh kekayaan alam Indonesia akan tanaman dan tanaman yang berkhasiat obat, program saintifikasi jamu ini mulai berjalan di beberapa fasilitas kesehatan, seperti klinik dan puskesmas.

Masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada jamu, biasanya menutup diri akan pengobatan konvensional. Dalam saintifikasi jamu, pengetahuan masyarakat mengenai potensi jamu, akan lebih dispesifikan. Tidak hanya menganai khasiat jamu yang akan dikonsumsi secara umum, tapi spesifik sampai pada kedalaman khasiatnya.

Misalnya, bila seseorang yang biasa mengkonsumsi seledri untuk mengatasi hipertensi, saat ini hal tersebut baru berdasarkan pengalaman leluhur tanpa didukung oleh penelitian. Pada masa saintifikasi jamu, hal tersebut terukur. Dalam arti seberapa besar kemampuan seledri untuk menurunkan tekanan darah, dan seberapa besar perbandingannya dengan obat konvensional akan diukur secara angka.

Banyaknya klaim mengenai potensi jamu atas beberapa penyakit, kemungkinan akan diatasi dalam era saintifikasi jamu nanti. Kepala Balitbangkes mengemukakan, mungkin saja dalam satu ramuan bisa membantu mengatasi banyak masalah kesehatan, karena dalam satu ramuan tanaman, bisa mengandung banyak zat aktif.

Namun seberapa kuat zat itu mampu mengatasi penyakit dan dalam keadaan penyakit seperti apa, itu yang harus diteliti lebih lanjut, agar potensi jamu ini benar-benar bisa bermanfaat bagi penggunanya.

Saintifikasi Jamu, Menghadirkan Ramuan Bukan Obat

Bagaimanapun, yang akan dihadirkan dalam saintifikasi jamu nanti bukanlah dalam bentuk seperti obat konvensional (kapsul, tablet, dll) tetapi tetap dalam bentuk ramuan. Tenaga kesehatan yang akan memberikan rekomendasipun pengobatanpun, akan diberikan dalam bentuk ramuan.

Menurut Balitbangkes, diharapkan jika masyarakat menerima resep dalam bentuk ramuan, masyarakat bisa mempelajari dan kemudian membuatnya sendiri di rumah, sehingga mereka akan teredukasi mengenai ramuan jamu tersebut. Potensi jamu memang sangat besar, walaupun saat ini bukan terfokus untuk pengobatan tetapi untuk perawatan kesehatan.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Bagikan Pada Temanmu!