Rajin Minum Jus Delima Bisa Atasi Masalah Hipertensi

Jus Delima Obat Hipertensi

Menyeruput jus buah delima di siang hari pastilah sangat menyegarkan. Sama hal nya dengan menghidangkan delima dalam sajian sup buah segar atau sajian rujak pedas. Berbagai metoda penyajian delima dalam santapan makanan dan minuman telah banyak dilakukan. Dan, hasilnya tetap sama, delima selalu sedap untuk disantap dalam bentuk apapun.

Buah berpenampilan cantik, yang tersusun seperti rangkaian biji mutiara ini ternyata tidak sekadar enak dimakan. Buah ini juga memiliki khasiat secantik tampilannya. Delima, buah yang kerap digunakan dalam upacara budaya(adat), terutama dalam adat menujuh bulan saat kehamilan memang memiliki banyak manfaat. Bahkan beberapa peneliti sempat menyatakan delima adalah buah dari surga.

Sebelumnya penelitian delima sebagai buah yang bisa membuat awet muda telah banyak dilakukan. Terbukti terdapat sifat antioksidan dalam buah delima, yang mampu melawan radikal bebas. Buah delima juga berfungsi dalam menjada kelembaban kulit sehingga tampak lebih indah. Belakangan, delima juga diteliti sebagai buah dengan khasian untuk menjaga tekanan darah.

Kandungan PotasiumTinggi dalam Delima

Selain pisang, delima termasuk buah dengan kandungan potasium yang tinggi. Bahkan, beberapa sumber mengatakan kandungan potasium delima melebihi kandungan potasium dalam pisang, bahkan sampai dua kali lipatnya.

Dalam sebuah sumber, dikatakan mengkonsumsi 6 buah delima, berarti tubuh mendapatkan asupan potasium sebanyak 891 mg. Jumlah ini telah mendekati 20% yang dibutuhkan tubuh. Hal ini yang membuat delima dianggap buah untuk obat alami hipertensi.

Potasium sendiri adalah sebuah senyawa yang bisa membantu untuk menjaga tekanan darah dan menyeimbangkan cairan dalam tubuh. Beberapa orang peneliti, telah melakukan penelitian tentang pentingnya potasium dalam tubuh. Seorang peneliti di  Belanda mengemukakan, kadar potasium yang sesuai dalam tubuh, bisa menurunkan tingkat kematian seseorang.

Delima, Inhibitor ACE alami.

Selain kadar potasium yang tinggi, yang dapat membantu menjaga tekanan darah, delima juga memiliki sifat Inhibitor ACE yang alami. Inhibitor ACE ini mengurangi kerja enzim, yang memicu tingginya tekanan daran, sampai 36% nya.

Delima juga berperan dalam mengurangi jumlah plak yang tersusun di pembuluh darah, sehingga membantu aliran darah menuju jantung menjadi lebih lancar.

Inhibitor ACESegolongan obat yang menghambat kinerja angiotensin-converting enzyme (ACE), yakni enzim yang berperan dalam sistem renin-angiotensin tubuh yang mengatur volume ekstraseluler (misalnya plasma darah, limfa, dan cairan jaringan tubuh), dan vasokonstriksi arteri. Obat ini biasanya digunakan untuk kasus hipertensi.

Mengenai aktivitas delima dalam menjaga fungsi jantung juga telah dikemukakan oleh peneliti Emad Aldujaili dan Catherine Tsang. Dalam penelitiannya beliau menyampaikan bahwa Jus buah delima bermanfaat dalam mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler.

Kesimpulan ini diambil atas dasar hasil penelitiannya yang significant, dimana khasiat buah delima untuk hipertensi secara konsisten terlihat hasilnya. Penelitian yang pernah dimuat di daily mail ini, juga mengungkap khasiat delima dalam mengurangi kadar lemak di sekitar perut, yang juga berarti delima mampu menurunkan kadar asam lemak yang berada dalam darah.

Dalam seminggu penggunaan, pada orang yang mengkonsumsi jus delima terdapat penurunan tekanan darah sistolik, dan hal ini tidak terjadi pada relawan yang tidak mendapatkan delima.

Di tahun 2011, penelitian ini terus berlanjut, Ernad Alduaji mencoba melihat seberapa besar dosis buah delima untuk hipertensi ini. Penelitian yang mengambil sampe 20 orang relawan, dimana 10 orang mengkonsumsi jus delima 500 ml dan 10 orang plasebo. Penelitian ini dilakukan selama satu minggu. Hasil dari  penelitian ini juga menunjukan adalah khasiat antihipertensi dalam delima.

Namun, masih menurut Ernad Aldujaili, penelitian yang ia lakukan baru sebagian kecil saja, masih banyak penelitian pendukung yang harus dilakukan untuk memperkuat hasil penelitiannya. Terlebih penelitian yang baru dilakukannya, baru dicobakan pada orang yang sehat, yang mungkin saja bisa menunjukan hasil yang berbada pada orang yang benar sakit. Karenanya penelitian lanjutan tetap harus dilakukan

Bagikan Pada Temanmu!